SPWID – Pada 13–24 Juni 2025, Israel terlibat dalam konflik intens selama 12 hari melawan Iran dalam apa yang disebut “Operation Rising Lion” atau Operation Narnia/Red Wedding. Awal serangan Israel adalah preemptive strike yang menargetkan fasilitas nuklir dan infrastruktur militer Iran, disertai eliminasi sejumlah komandan dan ilmuwan Iran .
Konflik ini menjadi saksi dari integrasi teknologi canggih dengan penggunaan drone serang dan intai, serta rangkaian pertahanan udara berlapis dari Iron Dome hingga Arrow dan sistem laser Iron Beam.
1. Dominasi Drone: ISR dan Serangan Precision
Israel memaksimalkan penggunaan UAV (Unmanned Aerial Vehicles) dalam peperangan modern. Menurut laporan, pesawat tanpa awak digunakan untuk 60% jam terbang Angkatan Udara dan 50% dari operasi serang, dengan lebih dari 500 serangan langsung, termasuk perburuan peluncur rudal di wilayah Iran.
Model utama drone Israel:
- Harop dan Harpy adalah loitering munitions untuk menjatuhkan radar dan sistem pertahanan Iran.
- Hermes 900 dan Heron adalah platform ISR endurance tinggi untuk pemantauan jangka panjang dan perang elektronik.
Metode covert juga digunakan. Mossad berhasil menyusupkan drone dan bahkan unit komando ke dalam Iran sebelum konflik, melumpuhkan sistem pertahanan udara dan radar musuh.
Keunggulan strategi drone Israel sulit terbantahkan:
- Efisiensi ISR dan buru target.
- Serangan presisi terhadap sistem musuh.
- Mengurangi risiko korban bagi pasukan darat.
2. Pertahanan Udara Multilapis: Iron Dome hingga Arrow dan Laser
- Iron Dome adalah sistem lapis pertama untuk intercept roket dan drone jarak pendek; keberhasilan > 99% dalam mencegat ratusan drone Iran.
- Iron Beam (laser) adalah teknologi baru yang mulai dikerahkan; dikembangkan sebagai alternatif lebih hemat biaya untuk menghadapi serangan drone skala besar.
David’s Sling
Sistem pertahanan jarak menengah, yang juga berhasil mencegat misil balistik selama konflik.
Arrow 2 dan 3
Sistem pertahanan lapis atas terhadap balistik jarak jauh dan hulu ledak. Pada konflik sebelumnya, Arrow mampu mencapai tingkat intersepsi hingga 90%, dan pada fase ini diperkirakan mempertahankan -86% keberhasilan.
Dukungan AS: SM‑3, Patriot & THAAD
Israel mendapat dukungan udara dari AS melalui armada dan sistem seperti SM‑3 (Aegis di kapal), Patriot, dan THAAD. Di 12 hari pertama, AS menggunakan sekitar 15–20% persediaan THAAD, yaitu 60–80 peluncuran.
3. Analisis Efektivitas Sistem Terpadu
| Sistem Pertahanan | Target | Tingkat Keberhasilan |
|---|---|---|
| Iron Dome | Drone & roket pendek | <99% |
| Iron Beam (laser) | Drone & roket kecil | Mulai dipakai; sangat hemat biaya |
| David’s Sling | Rudal jarak menengah | Intersepsi pertama kali |
| Arrow 2 & 3 | Balistik jarak jauh | 86–90% |
| AS (SM‑3, THAAD) | Balistik & hulu balistik | Peluncuran besar, membantu cadangan Israel |
Meski mahal, Iron Beam dan THAAD mencapai puluhan ribu hingga jutaan dolar per tembakan dan menjadi teknologi laser yang menawarkan efisiensi jangka panjang.
4. Tantangan dan Celah Strategis
- Keterbatasan Stok. Seperti Interceptor Arrow cepat habis; Israel diperkirakan hanya punya cukup untuk 12 hari lagi, seandainya perselisihan berlanjut .
- Ketergantungan pada Amerika Serikat. Boost persenjataan AS mencegah Israel kehabisan selama puncak konflik . Namun, ini memperlihatkan ketergantungan strategis yang rentan terhadap dinamika politik Washington.
- Biaya Operasi. Misil intercept seperti THAAD seharga USD 15 juta per peluncuran. Laser seperti Iron Beam membantu meringankan beban biaya tersebut.
5. Implikasi Strategis dan Teknologi Masa Depan
- Shift ke multi-domain warfare: Pergeseran multi domain Israel menunjukkan paduan operasi udara, drone, siber, dan ruang angkasa sebagai tatanan pertahanan modern.
- Deterrence by tech: Efektivitas sistem pertahanan meningkatkan posisi tawar diplomatik Israel serta mempengaruhi kebijakan global, terlihat pada peran Amerika Serikat dalam “Golden Dome” naskah pertahanan nasional .
- Teknologi disruptif: Perkembangan laser (Iron Beam) dan drone loitering generasi berikutnya melahirkan era “murah tapi deadly”, menjadi tantangan baru untuk strategi lawan .
Kesimpulan
Selama konflik 12 hari dengan Iran, Israel mengeksploitasi keunggulan teknologi dari intelijen dan serangan drone, hingga pertahanan udara berlapis dan dipadukan dengan dukungan Amerika Serikat. Efektivitas tinggi dari Iron Dome, Arrow, serta inovasi laser dan drone menjadikan model militer Israel relevan untuk era modern. Namun, ketergantungan stok dan biaya tinggi serta kepentingan aliansi menuntut reformasi strategi seperti efisiensi, diversifikasi, dan kesiapan menghadapi konflik lebih panjang.
Dengan riset dan pengembangan berkelanjutan, drone yang semakin otonom, laser yang lebih powerful, maka Israel menegaskan posisinya sebagai pelopor dalam peperangan berbasis teknologi.
Sumber:
- Business Insider & Reuters (dukungan Patriot/Arrow & ancaman Houthi).
- Times of Israel, Breaking Defense, FDD, Forbes (tingkat intersepsi dan penggunaan drone).
- NDTV & Economic Times (penggunaan THAAD & efektivitas Arrow).
- CFR & Wikipedia (Iron Beam, Harop/Harpy, drone model).
- The Sun & Newsweek (aksi covert dan durasi pertahanan).