spwid thumbnail penghasilan besar square

Mengapa Penghasilan Besar Belum Tentu Membuat Seseorang Merasa Aman?

SPWID – Memiliki banyak uang tidak selalu berarti hidup terasa tenang. Sebab, rasa aman finansial bukan hanya tentang seberapa besar penghasilan yang diterima, tetapi juga tentang seberapa kuat seseorang menghadapi ketidakpastian hidup.

Ada seseorang yang setiap bulan menerima penghasilan puluhan juta rupiah. Pekerjaannya terlihat mapan, kebutuhan keluarga terpenuhi, anak-anak dapat bersekolah dengan baik, dan sesekali ia masih bisa menikmati hasil kerja kerasnya. Dari luar, kehidupannya tampak baik-baik saja. Namun, setiap kali tanggal gajian semakin jauh, pikirannya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan. Bagaimana jika perusahaan mengalami masalah? Bagaimana jika sewaktu-waktu ia kehilangan pekerjaan? Apakah tabungan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Bagaimana jika ada kebutuhan mendadak yang nilainya jauh lebih besar daripada perkiraannya?

Anehnya, semakin besar penghasilannya, semakin banyak pula hal yang ia khawatirkan. Sementara itu, ada orang lain dengan penghasilan yang jauh lebih sederhana. Ia memang tidak memiliki banyak kemewahan, tetapi mampu menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Ia memahami batas kemampuannya, memiliki perencanaan, mengetahui prioritas, dan tidak terlalu mudah terguncang ketika menghadapi perubahan.

Dua orang tersebut memperlihatkan satu kenyataan yang sering luput dari perhatian: besarnya penghasilan dan rasa aman finansial tidak selalu berjalan beriringan.

Kita sering menganggap bahwa masalah keuangan akan selesai ketika penghasilan meningkat. Padahal, peningkatan penghasilan belum tentu menghilangkan kecemasan. Bahkan, bagi sebagian orang, semakin besar pendapatan yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab, kebutuhan, dan risiko yang harus dipikirkan.

Lalu, mengapa seseorang yang memiliki penghasilan besar masih bisa merasa tidak aman?

1. Penghasilan Bertambah, tetapi Kebutuhan Ikut Membesar

Salah satu alasan seseorang tidak kunjung merasa aman secara finansial adalah karena peningkatan penghasilan sering diikuti peningkatan gaya hidup.

Ketika penghasilan masih terbatas, seseorang mungkin cukup puas menggunakan kendaraan sederhana, tinggal di rumah yang sesuai kemampuan, dan menikmati hiburan yang tidak membutuhkan banyak biaya. Namun, setelah pendapatannya meningkat, standar kehidupannya perlahan berubah.

Ia mulai mempertimbangkan kendaraan yang lebih mahal, rumah yang lebih besar, sekolah dengan biaya lebih tinggi, liburan yang lebih sering, serta berbagai kebutuhan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Tidak ada yang salah dengan meningkatkan kualitas hidup. Hasil kerja keras memang layak dinikmati. Persoalannya muncul ketika setiap kenaikan penghasilan selalu diikuti kenaikan pengeluaran dengan kecepatan yang hampir sama.

Di ilmu ekonomi perilaku, fenomena ini berkaitan dengan lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup. Penghasilan meningkat, tetapi ruang keuangan yang tersisa tidak banyak berubah. Seseorang yang dahulu mampu menyisihkan sebagian penghasilannya mungkin mulai kesulitan melakukan hal yang sama setelah memiliki lebih banyak tanggungan dan standar hidup yang lebih tinggi. Akhirnya, ia memiliki penghasilan besar, tetapi tetap bergantung pada penghasilan bulan berikutnya.

Di sinilah kita perlu membedakan antara peningkatan pendapatan dan peningkatan kesejahteraan. Pendapatan menunjukkan jumlah uang yang masuk, sedangkan kesejahteraan finansial juga ditentukan oleh kemampuan mempertahankan uang, mengelola kewajiban, dan membangun cadangan untuk menghadapi masa depan.

Kenaikan penghasilan seharusnya memperbesar pilihan hidup, bukan sekadar memperbesar biaya hidup – SPWID.

2. Pikiran Manusia Tidak Selalu Merasa Aman Ketika Memiliki Lebih Banyak

Persoalan keuangan tidak sepenuhnya berada di dalam rekening bank. Sebagian juga berada di dalam pikiran manusia. Daniel Kahneman, melalui bukunya Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bagaimana manusia mengambil keputusan dengan dipengaruhi oleh cara berpikir, persepsi, dan penilaian terhadap risiko.

Di kehidupan finansial, seseorang tidak selalu menilai kondisinya berdasarkan angka yang tersedia. Ia juga menilainya berdasarkan apa yang mungkin terjadi. Orang yang memiliki tabungan cukup besar tetap bisa merasa takut kehilangan uangnya. Seseorang yang memiliki pekerjaan dengan penghasilan tinggi tetap merasa cemas jika membayangkan kemungkinan terkena pemutusan hubungan kerja.

Mengapa demikian? Karena pikiran manusia tidak hanya berusaha memahami keadaan sekarang, tetapi juga mengantisipasi ancaman pada masa mendatang.

Ketika seseorang terus-menerus memikirkan kemungkinan buruk, perhatian dan energinya akan lebih banyak terserap untuk menghindari kerugian daripada menikmati kondisi yang sudah berhasil dibangun.

Di psikologi, kecenderungan memperhatikan kemungkinan kerugian ini berkaitan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan manusia merasakan dampak kehilangan lebih kuat daripada kesenangan yang diperoleh dari keuntungan dengan nilai sebanding.

Itulah sebabnya kehilangan penghasilan yang sudah dinikmati selama bertahun-tahun bisa terasa jauh lebih menakutkan daripada kebahagiaan ketika menerima kenaikan gaji. Semakin banyak yang dimiliki seseorang, terkadang semakin banyak pula hal yang ia takutkan untuk kehilangan.

Namun, memahami mekanisme tersebut bukan berarti kita harus mengabaikan risiko. Justru, kita perlu belajar membedakan antara kewaspadaan yang membantu dan kecemasan yang melelahkan. Kewaspadaan mendorong seseorang membuat persiapan. Sebaliknya, kecemasan yang tidak dikelola membuat seseorang terus membayangkan kemungkinan buruk tanpa benar-benar membangun kemampuan untuk menghadapinya.

3. Penghasilan Besar Tidak Selalu Berarti Memiliki Fondasi Keuangan yang Kuat

Bayangkan seseorang menerima penghasilan Rp 30 juta setiap bulan. Ia memiliki rumah dengan cicilan yang cukup besar, kendaraan dengan angsuran, biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga, dan sejumlah kewajiban lainnya.

Secara nominal, pendapatannya terlihat mengesankan. Namun, sebagian besar penghasilan tersebut sudah memiliki tujuan sebelum uangnya diterima. Jika suatu hari sumber penghasilannya berhenti, seluruh kewajiban itu tetap berjalan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa besarnya pendapatan tidak otomatis menunjukkan kuatnya fondasi keuangan.

Di buku The Psychology of Money, Morgan Housel menjelaskan pentingnya memahami hubungan antara uang, perilaku, dan kebebasan dalam mengambil keputusan. Salah satu gagasan pentingnya adalah bahwa kekayaan tidak hanya terlihat dari apa yang dapat dibeli seseorang, tetapi juga dari sumber daya yang masih dimilikinya dan tidak harus dihabiskan.

Dengan kata lain, kemampuan menyimpan uang dan mempertahankan pilihan hidup merupakan bagian penting dari kekayaan.

Seseorang dapat memiliki penghasilan tinggi, tetapi tidak mempunyai cadangan yang cukup untuk menghadapi perubahan. Sebaliknya, seseorang dengan penghasilan lebih sederhana dapat memiliki kondisi yang lebih terkendali karena pengeluarannya terukur dan memiliki dana yang dapat digunakan ketika keadaan berubah.

Fondasi keuangan yang kuat setidaknya dibangun melalui beberapa hal:

  • Arus kas yang sehat. Pengeluaran tidak terus-menerus menghabiskan seluruh penghasilan.
  • Dana darurat. Tersedia cadangan untuk menghadapi kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan, atau keadaan tidak terduga.
  • Kewajiban yang terkendali. Cicilan dan utang tidak mengambil porsi yang terlalu besar dari kemampuan finansial.
  • Perlindungan keluarga. Risiko finansial yang besar dipertimbangkan melalui perlindungan yang sesuai kebutuhan.
  • Aset produktif. Sebagian sumber daya secara bertahap diarahkan untuk membangun kemampuan menghasilkan pendapatan di masa depan.

Kelima hal tersebut tidak harus dibangun sekaligus. Setiap keluarga memiliki kemampuan dan kondisi yang berbeda. Namun, semakin kuat fondasi keuangan yang dibangun, semakin besar pula kemampuan seseorang menghadapi perubahan tanpa harus kehilangan seluruh ketenangannya.

4. Ketergantungan pada Satu Sumber Penghasilan Menciptakan Kerentanan

Banyak orang merasa aman karena memiliki pekerjaan dengan gaji yang besar. Padahal, pekerjaan tersebut tetap memiliki risiko. Perusahaan dapat mengalami penurunan kinerja, perubahan strategi bisnis, restrukturisasi, pengurangan karyawan, bahkan penutupan usaha.

Hal-hal tersebut tidak selalu berada dalam kendali seorang pekerja. Seseorang dapat bekerja dengan baik, memenuhi target, memiliki pengalaman bertahun-tahun, dan tetap menghadapi risiko kehilangan pekerjaan ketika perusahaan mengalami kesulitan. Inilah alasan mengapa rasa aman finansial tidak seharusnya hanya dibangun dari besarnya gaji.

Kita perlu memahami perbedaan antara memiliki pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk terus menghasilkan pendapatan. Pekerjaan merupakan salah satu tempat seseorang memperoleh penghasilan. Sementara itu, kemampuan menghasilkan pendapatan berasal dari kombinasi keterampilan, pengalaman, reputasi, jaringan profesional, dan kemampuan beradaptasi. – SPWID.

Keduanya berhubungan, tetapi tidak sama. Orang yang hanya mengandalkan satu posisi pekerjaan mungkin memiliki penghasilan besar hari ini, tetapi belum tentu memiliki banyak pilihan ketika posisi tersebut hilang. Sebaliknya, orang yang terus mengembangkan kompetensi, memperluas jaringan, dan membangun sumber penghasilan tambahan secara bertahap sedang memperkuat daya tahannya.

Dalam konteks ini, resiliensi finansial tidak hanya berarti mampu bertahan ketika uang berkurang. Resiliensi juga berarti memiliki kemampuan untuk bangkit, menyesuaikan diri, dan menemukan jalan ketika sumber penghasilan mengalami perubahan.

Oleh karena itu, membangun karier tidak cukup hanya dengan mengejar kenaikan jabatan dan gaji. Kita juga perlu meningkatkan nilai diri agar tetap memiliki pilihan di tengah perubahan dunia kerja.

5. Rasa Aman Tidak Dibangun dengan Menghilangkan Semua Risiko

Ada satu kesalahan berpikir yang sering membuat seseorang terus merasa tidak aman, yaitu menganggap bahwa kehidupan baru akan tenang jika seluruh kemungkinan buruk berhasil dihilangkan.

Ia ingin memiliki tabungan sebanyak mungkin, penghasilan yang selalu meningkat, pekerjaan tanpa risiko, investasi yang tidak pernah turun, dan kehidupan keluarga tanpa kebutuhan mendadak. Sayangnya, kehidupan tidak bekerja seperti itu.

Selalu ada ketidakpastian. Kesehatan dapat berubah, perusahaan dapat mengalami masalah, kebutuhan keluarga dapat meningkat, dan kondisi ekonomi dapat bergerak di luar perkiraan. Jika ketenangan hanya bisa dirasakan ketika seluruh keadaan berada dalam kendali, seseorang akan kesulitan menikmati kehidupannya sendiri.

Kita memang perlu mempersiapkan masa depan, tetapi tidak mungkin mengendalikan seluruh masa depan. Di sinilah konsep resiliensi menjadi penting.

Di buku The Resilience Factor, Karen Reivich dan Andrew Shatté membahas bagaimana kemampuan menghadapi kesulitan dapat dikembangkan melalui pola pikir dan keterampilan tertentu, termasuk kemampuan mengelola pikiran, mengendalikan dorongan, serta membangun optimisme yang realistis.

Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut. Resiliensi berarti ia mampu merespons ketakutan dengan cara yang lebih sehat dan konstruktif.

Dalam keuangan, hal ini dapat dimulai dengan membedakan tiga hal.

Pertama, apa yang dapat kita kendalikan, seperti pengeluaran, kebiasaan menabung, pengembangan keterampilan, dan keputusan mengambil utang.

Kedua, apa yang dapat kita pengaruhi, seperti peluang karier, peningkatan penghasilan, hubungan profesional, dan perkembangan usaha.

Ketiga, apa yang berada di luar kendali kita, seperti perubahan ekonomi, keputusan perusahaan, dan berbagai kejadian tidak terduga.

Ketika ketiga hal tersebut dipahami, energi kita tidak lagi habis untuk mencemaskan segala sesuatu. Perhatian dapat diarahkan pada tindakan yang benar-benar memberikan perubahan.

6. Membangun Rasa Aman Finansial Dimulai dari Keputusan Kecil

Jika penghasilan besar belum tentu membuat seseorang merasa aman, lalu apa yang seharusnya dilakukan? Jawabannya bukan selalu mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi atau mengejar kekayaan sebanyak mungkin.

Kita perlu membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang sekaligus memperkuat kemampuan menghadapi perubahan. Ada beberapa langkah yang dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.

Pertama, hitung kebutuhan hidup yang benar-benar penting.

Pisahkan kebutuhan pokok, kewajiban keluarga, cicilan, keinginan, dan pengeluaran yang dapat ditunda. Dengan memahami struktur pengeluaran, kita dapat mengetahui berapa besar biaya yang harus tetap tersedia ketika penghasilan mengalami penurunan.

Kedua, bangun dana darurat secara bertahap.

Jangan menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai menabung. Mulailah dengan jumlah yang realistis, kemudian tingkatkan sesuai kemampuan. Target dana darurat sebaiknya disesuaikan dengan tanggungan keluarga, kestabilan pekerjaan, dan risiko kehilangan pendapatan.

Ketiga, kendalikan peningkatan gaya hidup.

Ketika penghasilan bertambah, jangan langsung menaikkan seluruh standar pengeluaran. Sisihkan sebagian peningkatan pendapatan untuk memperkuat tabungan, mengurangi kewajiban, dan membangun aset.

Keempat, tingkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan.

Investasikan waktu untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Perluas jaringan profesional, bangun reputasi, dan pelajari peluang usaha yang sesuai dengan kapasitas.

Kelima, tentukan ukuran cukup bagi kehidupan pribadi dan keluarga.

Tidak semua hal harus dimiliki. Tidak semua pencapaian orang lain harus dikejar. Memiliki tujuan finansial yang jelas membantu seseorang membedakan antara kebutuhan yang bermakna dan keinginan yang hanya muncul karena perbandingan sosial.

Langkah-langkah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, rasa aman finansial memang lebih sering dibangun melalui keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten daripada satu keputusan besar yang diharapkan mengubah seluruh kehidupan.

Seberapa Aman Kehidupan yang Sedang Kita Bangun?

Cobalah berhenti sejenak dan melihat kondisi keuangan kita saat ini.

  1. Jika penghasilan bulan depan berhenti, berapa lama keluarga masih dapat memenuhi kebutuhan pokok?
  2. Jika perusahaan mengalami masalah, apakah kita memiliki keterampilan dan jaringan yang memungkinkan untuk mencari peluang baru?
  3. Jika muncul kebutuhan mendadak, apakah kita mempunyai cadangan atau justru harus menambah utang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membuat kita takut. Tujuannya adalah membantu kita melihat kehidupan secara lebih jujur. Sebab, ada perbedaan besar antara terlihat mapan dan benar-benar memiliki ketahanan.

Seseorang mungkin mempunyai rumah besar, kendaraan bagus, penghasilan tinggi, dan berbagai fasilitas kehidupan. Namun, jika seluruh kehidupannya bergantung pada penghasilan bulan berikutnya, ia masih memiliki kerentanan yang perlu diperhatikan. Sebaliknya, seseorang yang belum memiliki banyak hal tetapi terus membangun kebiasaan keuangan yang sehat, mengembangkan kemampuan diri, dan menjaga kewajiban tetap terkendali sedang menyiapkan fondasi yang penting bagi masa depannya.

Pada akhirnya, rasa aman bukan tentang memastikan bahwa tidak akan ada masalah dalam kehidupan. Rasa aman adalah mengetahui bahwa ketika masalah datang, kita memiliki persiapan, kemampuan, dan pilihan untuk menghadapinya.

Penghasilan besar dapat memberikan lebih banyak kesempatan, tetapi kebijaksanaan dalam mengelolanya yang membantu kita mempertahankan ketenangan.

Jangan hanya bekerja untuk mendapatkan uang lebih banyak. Bangunlah kehidupan yang tidak mudah runtuh ketika uang yang selama ini kita andalkan mengalami perubahan. Karena tujuan keuangan yang sesungguhnya bukan sekadar memiliki lebih banyak, melainkan memiliki kehidupan yang lebih kuat, lebih terarah, dan lebih bermakna.

Segala kesulitan selalu ada kemudahan. Namun, kemudahan itu sering kali mulai terlihat ketika kita bersedia memperbaiki diri, mempersiapkan kehidupan, dan mengambil keputusan yang lebih bijaksana.


Tentang Penulis

Singgih Pandu Wicaksono adalah penulis SPWID (singgihpanduwicaksono.id) yang menaruh perhatian pada psikologi, resiliensi, pengembangan diri, karier, serta keuangan pribadi dan keluarga. Melalui cerita sederhana dan pemikiran reflektif, ia mengajak pembaca memahami diri, menghadapi kesulitan, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Tulisan Terkait

  • Mengelola Keuangan Keluarga: Mengapa Penghasilan Saja Tidak Cukup?
  • Resiliensi: Kemampuan Bangkit di Tengah Ketidakpastian Hidup.
  • Membangun Karier yang Kuat di Tengah Perubahan Dunia Kerja.

Menurut Anda, apakah penghasilan besar sudah cukup untuk membuat seseorang merasa aman? Bagikan pemikiran dan pengalaman Anda. Mari belajar memahami kehidupan dan memperbaiki diri bersama SPWID.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *